Love Life Care Smile Happiness :)

Enjoy your life with loving and caring everything, everyone around you....

Majeners

Majene Cakep Komuniti (MCK) adalah geng kami. Lebih tepatnya ini nama tim penempatan kami selama bertugas menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar di Kabupaten Majene. Terdiri dari sang koordinator bernama Tika, dia meninggalkan segala kemewahan hidup di Jogja dan nama tenar sebagai penyiar radio kemudian bergabung bersama kami. Ada juga Alvino yang merupakan lulusan IT dari UTM dan kami biasa memanggilnya Pino. Lalu si cantik mojang Bandung berdarah Batak, Ria yang juga seorang apoteker lulusan ITB. Tim kami semakin semarak karena kehadiran seorang engineer muda yang kreatif bernama Didin dan biasa kami panggil Diding karena di Mandar huruf N mati NG. Hehehe. Mau yang manis-manis? Ada Lukvi seorang sarjana pertanian dari UGM yang juga aktif di Mapala kampus menjadi idola banyak pria, hehehe. Selain itu ada juga Fajar yang pandai bermain musik, menciptakan lagu padahal ia lulusan Komputer UI. Dan yang menjadi maskot tim kami adalah Nurul, yang akrab dipanggil Pak Cakep atau Pak Unul. Ia seorang penulis buku dan lulusan UIN Jogjakarta. Saat ini Pak Unul masih bertugas di Tulang Bawang Barat meneruskan tugas pengajar muda sebelumnya. Dan anggota tim yang terakhir adalah saya. Ahahaha.

Kami baru saling mengenal dua tahun, tepat tanggal 10 September kami saling kenal di kantor Indonesia Mengajar. Waktu itu kami belum tahu bahwa nasib membawa kami bergabung dalam satu tim. Waktu pelatihan terus berjalan dan kami mulai saling mengenal lebih dekat saat pelatihan fisik bersama Wanadri dan Kopassus. Mulai menghafal nama-nama teman-teman yang lain juga.

Tibalah masa keberangkatan kami ke Majene, Sulawesi Barat tanggal 3 November 2012. Dengan memakai kaos seragam yang sengaja dibuat, kami lepas landas pukul 06.00 WIB menuju bandara Sultan Hasanudin Makassar. Kali pertama kami semua menginjakan kaki di tanah Celebes.

Masih kental dalam ingatan, subuh hari itu kami dilepas oleh Bapak Anies Baswedan dan tim Indonesia Mengajar di bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Usai menyanyikan lagu Bagimu Negeri karya Kusbini, kami tak cukup mampu menahan air mata yang mulai membasahi pelupuk mata. Kami berangkat dengan perasaan penuh dan masih menerka-nerka apa yang akan terjadi di penempatan. Akankah rasa solidaritas itu masih kuat? Akankah kami selalu baik-baik saja?

Dan hari ini saya mengingat masa-masa itu. Ahahaha tinggal gelak tawa bernama nostalgia. Kemarin siang saya, Ria, Lukvi, Vini, dan Fajar berkumpul. Kali ini masih berkumpul di rumah Fajar. Menyenangkan saat kami masak bersama lalu memakannya bersama di meja makan sembari reuni kecil-kecilan. Hanya saja obrolan kami sudah agak berbeda. Setahun atau dua tahun lalu kami masih membicarakan masalah sekolah, murid, desa, dan semua hal yang berkaitan dengan pendidikan. Tapi siang kemarin obrolan meja makan berubah menjadi obrolan masa depan, bukan melulu soal karier tapi masalah pernikahan. Agak geli dan lucu ternyata kami masih saling percaya dan saling membongkar aib diri sendiri. Ahahaha jangan dibayangkan aib buruk tapi lebih menceritakan bagaimana kondisi kita sekarang, terlebih masalah percintaan. Geli sekali. Nasib yang mirip banyak yang patah hati. Ahahaha :D

Sebelum berangkat tugas tahun 2012, kami memang sudah melakukan bonding antar anggota tim. Saya ingat betul, di bawah langit malam tanpa bintang (iyalah mendung dan banyak polusi juga) kami saling membongkar tentang diri sendiri? Keluarga, dan semuanya. Ini salah satu cara untuk mengakrabkan diri dan membentuk sikap toleransi saat di penempatan. Alhamdulillah bonding kami masih berlaku sampai sekarang. Meski jarang kumpul, kami masih terus berkomunikasi dan herannya tetap bisa curhat-curhatan!!!! Hahahahaha :))))))

Batasan-batasan sepertinya luluh oleh rasa sayang sebagai saudara dan keluarga. Setelah saya ingat-ingat lagi, hubungan kami yang seperti sekarang bukan tanpa masalah. Justru kami sudah melewati banyaaaakk sekali masalah, gesekan, beda pendapat, dan saling kritik. Saya pribadi pernah amat sangat bermasalah dengan teman satu tim, tapi semua bisa diselesaikan dengan baik-baik dan hasilnya kami tetap satu sampai sekarang. Semoga seterusnya begini ya gengs. :)

Mereka sering bilang saya ini “ala-ala”, hehehe karena memang saya paling bisa mengungkapkan perasaan lewat media tulisan. Apa yang tidak kami alami bersama? Jatuh dari motor sudah, ‘melawan’ birokrasi dengan halus sudah, mencucikan pakaian teman sudah, kebiasaan makan-tidur-sehari-hari juga sudah tahu sama tahu. Apalagi yang tidak kami tahu? Ahahahaha.

Saya benar-benar sadar kalau mereka lebih dari teman. Kami saudara meski bukan dari darah yang sama. Kami keluarga meski beda suku dan agama. Kami saling menyayangi.

Alhamdulillah rasa bahagia sisa kemarin siang membuat saya semakin bersemangat menjalani hari-hari yang selalu penuh surprise. Mereka benar-benar menguatkan saya.

I Love you all ♥


Dalam perjalanan menuju kantor Indonesia Mengajar,
19 Oktober 2014 :)

Karena kita satu saudara penuh canda dan tawa. Karena kita saling setia begitu selamanya…. lalalalala. Majene Cakep Komuniti (minus Didin, Mbak Tikyus, dan Pak Unul) :D

*2012 - 2014*

Karena kita satu saudara penuh canda dan tawa. Karena kita saling setia begitu selamanya…. lalalalala. Majene Cakep Komuniti (minus Didin, Mbak Tikyus, dan Pak Unul) :D

*2012 - 2014*

Be tough, Roy! (He is leukimia’s survivor). Thank you for lovely today. GBU ♥ #leukimia #cancer #survivor #caregiver

Be tough, Roy! (He is leukimia’s survivor). Thank you for lovely today. GBU ♥ #leukimia #cancer #survivor #caregiver

ROY

Kebiasaan yang masih sama dari hari ke hari. Duduk menunggu seseorang berjas putih yang dipanggil dokter. Tapi pagi ini ada pemandangan yang sedikit berbeda. Ada seorang bocah laki-laki berlarian dengan riang ke sana ke mari. Tertawa tanpa henti dan menciptakan dunianya sendiri. Wajahnya manis ditambah senyumnya yang memang mengembang sempurna. Namanya Roy, bocah laki-laki berkepala plontos yang saat ini sedang berjuang melawan kanker darah (leukimia) dalam tubuhnya.

Sepintas saat melihatnya kita nggak akan tahu kalau anak ini sedang berjuang melawan penyakit yang seberat itu. Menurut Mamanya, jumlah sel darah putih dalam tubuh Roy melebih jumlah sel darah merah sehingga dia sering sekali melakukan transfusi darah. Katanya dia pernah melakukan transfusi darah sebanyak enam kantung dalam sehari.

Ia sudah enam bulan dirawat di sini, mungkin dia sudah kebal dengan jarum suntik yang setiap hari menancap di tubuhnya. Ditemani sang mama yang kelihatan masih muda, bocah ini berjuang dari beberapa rumah sakit untuk melawan kankernya.

Di sini Roy memiliki beberapa teman yang akrab, ada Mas Pano—yang selisih usianya lebih tua empat bulan dari Roy— ada juga Siska yang sama-sama menderita kanker. Selain itu Roy juga bertema dengan Om penjual koran di sini, serta beberapa temannya yang sudah lebih dulu tidur panjang di sisi Tuhan.

Orangtua mana yang tidak sedih dan terpukul mendapati buah hati tercintanya didiagnosis menderita kanker darah. Ditambah usia yang masih di bawah lima tahun. Saya yakin nggak ada orangtua yang tega melihat anaknya seperti itu. Sama hal dengan Mama Roy yang dengan sabar menenaminya berobat mulai dari RS di kota Medan hingga akhirnya dibawa ke Jakarta. Semua dilakukan demi kesembuhan buah hati tersayang.

Hari ini Roy akan bersiap-siap menjalani kemoterapinya yang ke dua belas. Iya anak sekecil itu harus menjalani kemoterapi sebanyak itu. Di tangannya terlihat bekas suntikan dan jarum-jarum pernah bertengger di tubuhnya. Belum lagi obat yang setiap hari harus dikonsumsi. Menurut Mamanya sekarang Roy sudah banyak otak, sudah bisa merasakan kalau obat yang dimakan pahit dan dikemo itu sakit. Tapi Roy tetap harus menjalani serangkaian terapi demi menyelamatkan nyawanya. Mamanya hanya berujar, “tetap nggak tega setiap melihat dia dikemo…. hati rasanya teriris….”

Proses pengobatan panjang yang dijalani terasa berbeda ketika dia kecil dengan saat ini. Menurut Mamanya sekarang dia tidak lagi mampu dibujuk ketika diajak ke rumah sakit karena dia sudah kenal jarum suntik. Hanya ada satu alasan yang membuat Roy semangat ke rumah sakit, yaitu bertemu dengan “Mas Pano” teman seperjuangannya. “Maaa… main ke rumah sakit yuk Ma ketemu Mas Pano….” ujarnya.

Sesampai di kamar perawatan, dia selalu ingin mengintip dan mencari Mas Pano tapi Mamanya bilang “Mas Pano sudah bobok….” —yang artinya Mas Pano sudah meninggal, Nak.

Sampai sekarang Roy belum tahu bahwa sahabat kesayangannya sudah tidak ada lagi. Roy hanya tahu Mas Pano sudah tidur dan Roy harus terus berobat demi kesehatannya—demi nyawanya.

Roy, terima kasih sudah menjadi teman kecil saya hari ini. Senang bisa bermain dan ber-selfie hari ini denganmu. Lekas sehat ya. Tuhan sayang Roy. :)

Serba-Serbi BPRI

beningtirta:

Ini cerita seorang reviewer BPRI. (sumber)

likalulu:

“Apa yang dapat membuat suatu Bangsa berdaulat? Jawabannya adalah pendidikan.

Apa yang membuat NKRI ini bisa mandiri dan punya harga diri ? Jawabnya tentulah juga pendidikan.

Apa yang membuat suatu negara kokoh? berkepribadian…

More about BPRI :)

Rasanya setelah kemo itu seperti ngidam. Makanan susah masuk tapi tetap harus dipaksa masuk. Rasanya nano-nano, yang pasti lemas, capek, maunya tidur terus persis orang hamil muda. (Ibu X, kanker payudara stadium II)

Rindu di balik kubikel

Menembus jalanan Jakarta
Menjelang magrib
Mengamati jalanan hingga malam
Terjebak macet
Buka puasa dengan doa atau permen
Berangkat pagi berkenalan dengan orang di angkot
Atau sekadar melempar senyum tanpa arti
Menjaga stamina mental menuju sebuah kubikel
Sebelum duduk manis di balik PC

Agaknya ada rindu menyelinap
Keceriaan pagi hari disambut anak-anak muda yang baru lulus kemarin sore
Rindu disapa di chatroom lalu membaca curhatan mereka
Atau sekadar bertanya, “bawa bekal? Nanti siang mau makan apa Mbak?”
Iya aku rindu kalian

Dari meja ke meja aku pindah
Rindu mentertawakan kebuntuan otak saat berhadapan dengan kata demi kata
Berkelakar dengan teman sebelah sekadar saling berbagi gambar lucu atau candaan princess
Berteriak dan bernyanyi saat bos besar tidak ada
Rindu pada kalian dengan kata

Mungkin suara pesawat telepon di kubikel juga membuatku rindu
Yang bahkan kami tak sadar itu suara dari kubikel kami
Ada juga kerinduan berlari dikejar waktu
Atau sekadar membantai tulisan-tulisan yang masuk ke meja redaksi
Mungkin benar ada semburat rindu

Ah iya…. belum lagi nuansa laut di dinding
Tak ada impian menjadi wanita karier
Tapi ada impian menjadi seseorang di sana

Ah iya benar ada rindu untuk kalian
Kapan kita makan bersama?
Tertawa bersama?
Atau bahkan wefie bersama?

Benar-benar ada rindu di udara
Belajar bersama kalian membuatku paham banyak hal
Semoga kita berjumpa di mimpi nanti malam

Dedicated to: KPG’s family ♥

15 Oktober 2015,
Perjalanan ke rumah

Anak sukses bermula dari BANGUN PAGI

ANAK SUKSES? BERMULA DARI

BANGUN PAGI (TIPS PARENTING)
by : bendri jaisyurrahman

1| Perbaikan kualitas generasi
selayaknya dimulai dgn
kebiasaan bangun di pagi hari.
Sebab generasi unggul bermula
dari pagi yg masygul (sibuk)

2| Kebiasaan bangun pagi
hendaklah dimulai dari usia dini.
Peran Ayah amat dinanti. Ayah yg
peduli tak abai dalam urusan
bangun pagi buah hati

3| Jika anak terbiasa bangun
siang. Maka keberkahan hidup
melayang. Aktivitas ruhani
menjadi jarang. Perilaku menjadi
jalang

4| Mulailah dengan malam yang
berkualitas. Anak tidak terjaga di
ambang batas. Harus buat
peraturan tegas. Kapan terjaga
dan kapan pulas

5| Sehabis isya jangan ada
aktivitas fisik berlebihan.
Upayakan aktivitas yang
menenangkan. Membaca atau
bercerita yg berkesan

6| Biasakan berbagi perasaan.
Mulai dengan cerita aktivitas
harian. Evaluasi jika ada yang
tidak berkenan. Sekaligus sarana
pengajaran

7| Buat kesepakatan bangun jam
berapa. Lantas anak mau
dibangunkan bagaimana. Jadikan
ini sebagai modal
membangunkan di pagi harinya

8. Tutuplah aktivitas malam
dengan dengarkan tilawah. Agar
anak tidur membawa kalimat
Allah Pemberi Rahmah. Terekam
dalam memorinya sepanjang
hayah

9| Pagi pun datang. Jalankan
kesepakatan yang dibuat
sebelum tidur menjelang.
Bangunkan anak penuh kasih
sayang. Bangunkan dengan cara
yg ia bilang

10| Jika anak menolak tuk
beranjak, ingatkan akan
kesepakatan semalam. Anak siap
terima konsekuensi tanpa
diancam. Batasi kesenangan yg ia
idam

11| Bangunkan anak dengan
kalimat Ilahi. Agar paginya
diberkahi. Jika perlu adzan di
telinga kanan dan kiri. Bisikan
dengan lembut tembus ke hati

12| Jika ia segera bangun, jangan
lupa apresiasi. Hadiahi dengan
doa dan kecupan di pipi. Tak
lupa bertanya tentang mimpi.

Anak butuh transisi
13| Jika anak telah terjaga,
siapkan aktivitas olah jiwa dan
raga. Agar fisik anak bergerak tak
kembali ke kasur yg menggoda.
Mudah-mudahan jadi pola.
14| Jalankan pola ini minimal 2
pekan. Agar lama-lama jadi
kebiasaan. InsyaAllah anak
bangun pagi dengan kesadaran.
Sebab tubuhnya telah
menyesuaikan

15| Jika ayah tak sempat
membangunkan, karena harus
segera ke kantor kejar setoran,
mintalah ibu berganti peran.
Agar anak tak merasa diabaikan

16| Jangan sampai anak tumbuh
remaja, punya kebiasaan yg tidak
mulia. Bangun pagi selalu
tertunda. Sholat shubuh di waktu
dhuha. Banyak melamun tak ada
guna

17| Jika terlanjur anak bangun
kesiangan. Buatlah rencana
bersama pasangan. Konsisten
dan tidak saling menyalahkan.
Fokus kepada upaya perbaikan

18| Sebelum terlambat, segera
bertindak cepat. Agar masa
depan anak selamat. Fokuslah
kepada perbaikan pola tidur yg
sehat

19| Jika anak terbiasa bangun
pagi sedari dini, itu ciri anak
berprestasi. Tak mudah
dipengaruhi berbagai pergaulan
yg tidak islami

20| So, tunggu apalagi. Jangan
cuma bisa marah dan mencaci.
Segera bertindak untuk buah
hati. Fokuslah kepada bangun
pagi. Selamat beraksi.


Source: group FIM Penting

Saya bertanya kepada seseorang, “pilih menunggu atau terlambat?” Lalu dia menjawab “menunggu…. :)”. Pikirku kenapa harus dengan senyum. Ya, sekarang saya tahu, lebih baik menunggu daripada terlambat dan membiarkan kesempatan berlalu. :)

*sedang menunggu panggilan — kalau cemberut makin capek — dan ya saya masih di sini. Menunggu.*

Menebus obat dengan jaminan

Hai hai sambil antre dan menunggu yang super lama ini. Lagi dan lagi saya mau share masalah jaminan kesehatan. Yah masih ada kaitannya dengan BPJS.

Ini kali pertama saya menebus obat dengan menggunakan fasilitas Askes/BPJS. Jadi prosedurnya karena tadi saya harus bertemu dulu dengan dokter di poliklinik PPKT maka resep yang sebetulnya sudah saya dapatkan dari dokternya Ibu baru bisa saya tebus hari ini setelah mendapat acc dari dokter yang menangani kemoterapi.

Nah, seperti biasa pagi hari saya sudah mejeng lucu di loket Askes/BPJS untuk mendapatkan surat sakti ke poli PPKT. Sampai di PPKT saya meletakan surat sakti lalu duduk manis menunggu dokter yang ternyata baru ada siang hari usai melakukan pekerjaannya di ruang kemoterapi.

Di sini sata bertemu banyak pasien dan keluarganya. Saling sharing dan menguatkan. Tapi karena hari ini proses panjang dan melelahkan jadi saya tidak mengajak Ibu karena nggak tega khawatir kelelahan. Fiiiuuuhhh….

Tepat pukul 11.45 wajah keibuan sang dokter terlihat memasuki ruang praktiknya. Alhamdulilllaaahh setelah dari pagi menunggu… *tepuktangan*. Wajah-wajah sumringah terlihat dari pasien yang sudah menunggu daritadi. Tiba giliran saya masuk ruangan. Setelah dilihat statusnya akhirnya sang dokter membuatkan jadwal kemoterapi untuk Ibu dan yes resepnya sudah diacc! Horeeee….

Karena hari sudah siang maka saya menunggu lagi sampai loket bagian pengesahan resep buka kembali setelah istirahat siang. Sekali lagi kuncinya sabar bro… sabar!!! Cheeerrss! You are not alone, banyak pasien yang juga nunggu giliran ahahahaha :D

Setelah antre akhirnya resep obat distempel alias disahkan. Udah gitu aja kok. Lalu saya berjalan menuju tempat foto kopi yang ada persis di samping depo obat alias apotek. Saya perbanyak resep yang sudah disahkan lalu mengambil antrean ke apotek. Kesalahan saya adalah foto kopi dulu baru ambil antrean. Kalau mau lebih cepat ambil antrean dulu lalu foto kopi sambil menunggu panggilan.

Setelah menunggu sekitar satu jam, nomor saya dipanggil. Sampai loket obat, saya wajib menyerahkan resep asli dan satu lembar fotokopiannya. Kemudian saya akan mendapat nomor antrean lagi untuk pengambilan obat. Masih sabar menunggu kan?

Nah, karena obat yang saya tebus adalah obat untuk kemoterapi maka pihak loket mengatakan, “kapan kemonya? Ini surat pengantar obatnya bisa diambil nanti nunggu lama atau besok sekalian ya. Maksimal besok. Kan kemonya juga masih lama….”

Mendengar penjelasan sang petugas loket obat, saya jadi galau…. nomor antrean saya masih harus menunggu 372 resep lagi. Ahahahaha. Ya Alloh ini jackpot amat yak! Hahahaha

Untuk yang mengambil obat-obatan biasa setelah resep disiapkan maka bisa langsung diambil dan dibawa pulang obatnya.

Tapi katanya sih nggak semua obat bisa digratiskan tetap ada plafon dari pemerintah. Berapapun besarnya tetap meringankan biaya pengobatan pasien. Apalagi pengobatan ibu saya yang mencapai angka tiga digit. Eng ing eng….

Pertanyaannya apakah saya kuat menunggu sampai nomor antrean 716 dipanggil? Ahahahaha…. let’s see yaaa… niatnya nungguin! :)))))


Salam sabar menunggu,
RSUP Fatmawati
15 Oktober 2014