Love Life Care Smile Happiness :)

Enjoy your life with loving and caring everything, everyone around you....
I heart you, girl… MasyaAlloh ayu banget gadis cilik ini… i wanna have this one ;)

I heart you, girl… MasyaAlloh ayu banget gadis cilik ini… i wanna have this one ;)

"Haloooo cantik…. Asmani pun sinten?" Sapa Om baik hati di ujung sinyal sana. :)

I wanna have a baby ♥

"Haloooo cantik…. Asmani pun sinten?" Sapa Om baik hati di ujung sinyal sana. :)

I wanna have a baby ♥

Happy Wedding dearest @diarwidya and Aria. Happily everafter ya ♥

Happy Wedding dearest @diarwidya and Aria. Happily everafter ya ♥

Tentang ….

Ini tentang hati yang konon kabarnya hampir menyerupai gantungan baju.

Ini tentang hati yang terus menanti meskipun entah siapa yang dinantikan ….

Ini tentang hati yang sering didatangi lalu ditinggal pergi. Mungkin ibarat kolam ikan, di dalam hati airnya sudah penuh dan tumpah ….

Ini tentang hati yang punya nyawa, tentang kegalauan hati dan ingin segera ditenangkan ….

Ini hati yang seringkali di angkat lalu dijatuhkan lalu ditinggal.

Hei…. ini hati bukan telinga panci atau kuali…. ini hati yang punya “harga” dan masih tahu maknanya perasaan ….

Ini hati bukan tempat sampah atau gorong-gorong yang hanya ditengok ketika ada kepentingan

Iya, ini hati bukan gulungan tali jemuran ….

Maafkan aku, ya hati ….
Maafkan aku yang tak pandai menjagamu ….

Semoga tak ada lagi parasit yang masuk menyelinap dan meruntuhkan pertahanan hati ….

Semua bergantung pada NIAT

Suatu hari yang cerah (tapi mendung di hati saya), tepat di ruang tunggu instalasi bedah sebuah rumah sakit di Jakarta, saya melihat seorang muslimah terlihat sedih kebingungan dan ya…ingin rasanya meminjamkan pundak barang sebentar untuknya. Di sebelahnya ada seorang laki-laki muda berwajah datar dan semakin membingungkan ada apa dengan mereka. Ditambah lagi berulang kali nama seseorang disebut berulang kali. Mulai dari tambah kantung darah, pendarahan, hingga lain hal yang saya tidak tahu pasti.

Sore itu hati saya pun setengah hancur menunggu orang tersayang dalam hidup saya sedang berjuang di atas meja operasi. Tapi saya yakin ketika kepasrahan pada Sang Khaliq sudah muncul, InsyaAlloh all is well. Ya kan?

Akhirnya adzan magrib berkumandang, saya bergantian dengan keluarga yang lain solat di mushola rumah sakit. Saya tumpahkan semua kekhawatiran dan kesedihan saya. Tidak di depan mereka tapi di atas sajadah yang membuat saya yakin bahwa inilah jalan terbaik yang harus ditempuh demi sebuah kata “sehat”.

Usai mengucapkan salam, saya mengenal seseorang yang solat tepat di sebelah kiri saya. Seorang muslimah dengan jilbab peach yang sedari tadi saya amati wajah sedihnya di ruang tunggu operasi. Saya mencoba menyapanya dan tak lama ia menumpahkan airmatanya sambil memegang tangan saya erat. Ya sangat erat dan terasa ada kekuatan sekaligus ketakutan.

Lalu kami mengobrol, ternyata ia seorang bidan yang baru saja menolong seorang ibu melahirkan. Katanya si ibu datang ke rumahnya dalam kondisi sudah pembukaan sempurna dan bayi siap lahir. Belum melakukan banyak tindakan, bayi mungil lahir dengan selamat. Namun setelahnya sang ibu mengalami pendarahan hebat. Hingga akhirnya sang bidan membawanya ke rumah sakit untuk tindakan medis yang lebih sempurna.

Berulang kali sang bida menegaskan kepada saya, “demi Alloh saya tidak melakukan apa-apa, saya tidak takut dipenjara, saya siap mengganti semua biaya perawatan di rumah sakit, tapi saya takut hukuman di akhirat… saya tidak ada maksud mencelakakan pasien saya… saya trauma… saya hanya ingin mengajar saja… saya takut takut takut….” ada nada gemetar di setiap ucapannya. Bahkan suaminya belum tahu tentang hal ini….

Sampai akhirnya sang bidan bercerita panjang lebar, maaf bukan bermaksud gibah tapi menurut saya ada yang bisa dipetik dari cerita ini… sang bidan menceritakan bahwa niatan sang ibu ketika melahirkan adalah ingin segera “membagi” anaknya kepada orang lain. Sepasang suami istri ini tidak ingin merawat bayinya. Mereka ingin segera memberikan bayi ini pada orang lain yang siap merawatnya. Deg…. hati saya terenyuh mendengar penuturan sang bidan.

Di saat banyak pasangan suami istri mendambakan seorang keturunan, tapi mereka tidak menginginkannya…

Dan ternyata bayinya terlahir selamat sedangkan sang ibu mengalami pendarahan hebat. Waktu kami ngobrol, sang ibu sudah menghabiskan empat kantung darah…. Astagfirullahaladziim…. :’(

Semua bergantung niat, yes everything happen for reason. :’(

Ya Alloh…. jagalah hati-hati kami untuk selalu taat di jalanMu, jaga hati kami untuk selalu bersyukur di jalanMu…. Aaammmiiin

Please, listen to me!

Pertama, mari kita letakkan kedua tangan kita di kedua telinga kita. Rasakan bahwa telinga pun ingin bicara. Telinga ingin diberi perhatian tentang fungsinya untuk mendengarkan dan bukan sekadar untuk mendengar.

Dua hari lalu saya pergi ke RS Kanker Dharmais (National Cancer Center). Bukan tanpa maksud datang ke sana. Tiba di gedung megah dengan lobi rumah sakit ramai. Ada yang duduk dengan tenang tapi banyak juga yang gelisah. Ada yang duduk menunggu antrean bersama keluarga, tapi banyak juga yang duduk sendiri. Ada yang berkerudung untuk menutupi kepalanya yang sudah tidak berambut, tapi ada juga yang memakai topi untuk menutupi kepalanya yang tidak lagi dihiasi mahkota. Tapi mereka perempuan?

Kita tahu mahkota perempuan yang sering menambah rasa percaya dirinya adalah rambut dan (maaf) payudara. Bagaimana jika ternyata tak selamanya kedua mahkota itu ada di tubuh kita? Bagaimana jika Tuhan meminjamkannya hanya beberapa saat? Dan itu benar adanya….

Sesampainya di lobi rumah sakit, saya duduk di kursi tunggu. Saya kebingungan hendak bertanya mengenai bone scan ke mana. Akhirnya saya putuskan duduk sebentar sembari menghela nafas panjang setelah berpanas-panasan.

Tak lama saya memberanikan diri bertanya kepada seorang ibu yang duduk di sebelah saya. Pasien kanker payudara yang sudah menjalani empat kali operasi. (Maaf) kedua payudaranya sudah diangkat. Sang ibu tak lagi bermahkota sempurna. Rambutnya pun sudah rontok karena kemoterapi.

Entah kejadian yang selalu berulang, tiba-tiba sang Ibu bercerita bahwa ia datang berobat sendirian dengan membawa kartu sehat jakarta. Satu hal yang saya kagum adalah semangatnya. Sang Ibu yang lupa saya tanya namanya mengatakan, “Untuk kami yang penting suasana hati harus happy terus Mbak. Karena rasanya beraaatt sekali sakit kanker ini. Apalagi saat menjalani proses kemoterapi rasanya badan mau rontok. Belum lagi rasa mual setelahnya, penurunan berat badan. Tapi bagaimanapun Tuhan sudah menitipkan penyakit ini dalam tubuh saya untuk disembuhkan. Pasien seperti saya harus punya semangat untuk sembuh Mbak…. harus siap mental karena proses pengobatannya panjang dan lama…. mungkin dulunya hidup saya kurang happy, kurang happy-fun kali ya Mbak makanya kena kanker….” seketika saya berusaha menahan butiran air mata yang rasanya ingin tumpah seketika. Bagi saya butuh kekuatan bahkan untuk memberhentikan laju bus dan melangkah masuk ke rumah sakit ini….

Sementara di kesempatan lain, saya mendengarkan seorang nenek yang juga terkena kanker payudara dan harus merelakan payudara sebelah kirinya untuk diangkat. Hari itu sang nenek juga datang sendirian ke rumah sakit. Katanya ini kali ke enam dan sesi akhir proses panjang kemoterapi. Tapi apa hanya sampai di situ? Begini katanya, “saya sudah kemo yang keenam. Mudah-mudahan waktu di periksa sudah bersih dan nggak harus kemo. Rasanya lemas mbak seperti orang ngidam. Belum lagi kalau kondisi badan drop lalu kadar Hb turun saya harus disuntik dulu….” lalu saya bertanya sejak kapan sang nenek menyadari bahwa dirinya terkena kanker payudara. Dan dari penuturannya, beliau menyampaikan bahwa benjolan di payudara tidak terasa hanya tiba-tiba ukurannya berubah drastis. Sudah lima bulan ini beliau menjalani pengobatan.

Lalu, bagaimana dengan pasien yang tidak memiliki cukup dana untuk pengobatan? Saya baru paham betul fungsinya kartu bpjs kesehatan. Meskipun ada tata cara penggunaannya tapi kartu sakti ini sangat membantu pasien kanker dalam proses pengobatannya. Bayangkan saja biaya kemoterapi mencapai angka 15 jutaan dan bagaimana jika pasien harus menjalani kemoterapi hingga 6 kali?

Kita perlu mendengarkan bahwa pembelahan sel kanker terjadi dalam waktu yang sangat cepat, tidak terduga, dan setiap perempuan bisa saja mendapat “rezeki” ini.

Masih ada beberapa cara yang saya tahu untuk deteksi dini kanker payudara. CMIIW:
1. Rajinlah meraba payudara untuk mengetahui ada tidaknya benjolan. Hati-hati benjolan tidak melulu hanya kista/tumor, jika terasa ada benjolan sebaiknya periksakan ke dokter dan ikuti instruksi medis yang diberikan.
2. Menjaga pola hidup sehat. Paling sederhana dari pemilihan jenis makanan. Kurangi penggunaan MSG. Kalau saya prefer berhenti jajan sembarangan. Selain bisa lebih hemat, pastinya lebih sehat. :)
3. Sesekali bercermin untuk melihat kesamaan ukuran payudara. Perlu curiga kalau ada perubahan bentuk payudara, bisa ukuran tidak sama, ada kerutan, keluar cairan aneh dari puting, atau bahkan kulit mengeras serta warnanya memerah. Please check before late. :’)
4. Olahraga. :)
5. Yang nggak ada di literatur, ingat Tuhan, rajin ibadah, dan berdoa meminta kesehatan lahir dan bathin. Semoga kita semua terjaga dari beragam penyakit.
6. Support, encourage, dan dampingi jika ada orang-orang terdekat kita yang sedang berjuang melawan kankernya. One friend for one patience. :)

Please, listen to me! :)

Pergi setelah menunggu

Duh, judulnya galau banget ya?
In fact, banyak yang menunggu lalu banyak juga yang pergi. Lalu bagaimana dengan what easy come, easy go? No, saya nggak setuju. Semua bergantung dengan niat. Yes, niat! Don’t ever do stupid thing and make mistakes for many times. Katanya nggak ada noda nggak belajar? Iya kalau sekali, dua kali, tiga kali, tapi kalau berulang kali itu namanya egois. Belajar untuk kepentingan diri sendiri dan nggak mikirin subjek lain yang dirugikan.

Coba lihat di banyak shelter trans jakarta..cuma mereka yang di sana betah menunggu lama dan nggak pergi karena mereka tahu tujuannya menunggu. Mereka tahu yang ditunggu cepat lambat akan datang lalu pergi bersama.

Lalu coba lihat penumpang di terminal? Lama menunggu dan yang ditunggu tak kunjung datang sementara ada alternatif lain untuk ke tujuan yang sama, mereka akan memilih opsi lain untuk tiba di tujuan yang sama.

Ya, ke mana pun, dengan apapun perginya, bersama siapa pun perginya… ingat TUJUAN! Sudahkah tujuannya sama? Jika tidak jangan buang waktu menunggu, tak masalah pergi dan ganti kendaraan asal tahu tujuannya… :)

Nomor urut antrian instalasi radiologi RS Kanker Dharmais (National Cancer Center).

Memegang kartu itu dan duduk menunggu sembari mengobrol dg pasien di sana membuat merinding sekaligus ingin tobat.

Ingin mengubah stigma masyarakat bahwa kanker dapat disembuhkan, kanker tidak sejahat itu, dan orang-orang dengan kanker butuh disupport. Cuma Alloh sebenar-benar Dzat yang tahu sampai kapan usia hambaNya….

"Mungkin dulunya saya kurang happy dan fun mbak sampai bisa kena kanker payudara… habis sudah semua payudara saya…" kata seorang pasien yang datang sendirian untuk kemoterapi.

They are the real fighter! They are tough and fight for their life. Let’s support them! #caregiver #cancer #encourage #hope

Nomor urut antrian instalasi radiologi RS Kanker Dharmais (National Cancer Center).

Memegang kartu itu dan duduk menunggu sembari mengobrol dg pasien di sana membuat merinding sekaligus ingin tobat.

Ingin mengubah stigma masyarakat bahwa kanker dapat disembuhkan, kanker tidak sejahat itu, dan orang-orang dengan kanker butuh disupport. Cuma Alloh sebenar-benar Dzat yang tahu sampai kapan usia hambaNya….

"Mungkin dulunya saya kurang happy dan fun mbak sampai bisa kena kanker payudara… habis sudah semua payudara saya…" kata seorang pasien yang datang sendirian untuk kemoterapi.

They are the real fighter! They are tough and fight for their life. Let’s support them! #caregiver #cancer #encourage #hope