Love Life Care Smile Happiness :)

Enjoy your life with loving and caring everything, everyone around you....

Dimanapun kamu berada, junjung terus nama yang tiga: keluarga, agama, dan bangsa.

—(via beningtirta)

Pilih mana: Ibu bekerja atau Ibu Rumah Tangga?

Pagi ini saya mendapat cerita hasil mencuri dengar alias menguping. Anggap saja saya berdosa sudah menguping pembicaraan orang lain, tapi salahnya mereka ngobrol di depan musala saat saya berada di dalamnya.

Menjadi orangtua seperti sebuah pilihan yang ditunggu banyak orang. Oh berarti bukan pilihan tapi kesempatan, ehm atau ini mungkin status ini bisa disebut “prestise dunia dan akhirat”. Whatever maknanya, pagi ini saya belajar hal lama yang terdengar baru dan bisa jadi renungan untuk pilihan hidup selanjutnya.

Di depan musala, ada seorang bapak dan ibu yang sedang membicarakan anaknya masing-masing. Namanya dunia kerja, kadang rasa rindu terhadap keluarga muncul di dalam obrolan. Sebut saja si Ibu dengan A dan si Bapak B.

A: Kita libur sampai tanggal berapa sih? Cuma cuti bersama aja, kan? Saya nggak enak mau bolos lagi. Minggu lalu sudah izin antar anak masuk sekolah.

B: Lho ya nggak apa-apa, Mbak. Izin aja, cuti bersamanya itu Rabu sampai Jum’atnya itu.

A: Oh gitu yam yaudah deh. Aku tak izin aja ya kalau nambah libur lagi.

Kemudian saya nggak terlalu paham apa yang mereka obrolin, sampai ada obrolan yang membuat saya tercengang dan “wah!”.

A: Dulu Mas nganter anaknya masuk sekolah nggak?

B: Enggak tuh, sudah sama Ibunya saja. Anakku mandiri.

A: Oh…anakku yang besar juga mandiri. Tapi aku jadi nyesel, saking mandirinya, nggak pernah cerita kalau ada apa-apa. Apalagi waktu tangannya patah gara-gara saya lepas ke sana kemari. Saya kapok nggak mau kejadian lagi sama yang kecil.

B: Lho kok bisa sampai patah, emang ngapain?

A: yaitu, saya sibuk kerja, pulang sudah malam kan, Mas. Sampai rumah nanya ke anak “gimana sekolahnya hari ini? gimana les nya? Tadi pulang jam berapa?” Semua saya tanyain, dia juga jawab. Tapi jawabannya seolah nggak ada apa-apa. Padahal ternyata dia nggak les karena guru lesnya nggak masuk. Tapi ya bener jawabannya, nggak bohong sih cuma saya jadi nggak bisa ngontrol.

B: Lha terus patahnya?
A: yaitu suka ke sana kemari, saya percaya aja, ealah nggak tahunya kenapa-kenapa. Lha saya jadi kapok kejadian sama yang kecil.

B: Udah nggak apa-apa itu. Bagus mandiri gitu. Daripada ke mana-mana minta diantar atau ditemani.

A: Lha tapi saya jadi nggak tega e’ sama anak yang kecil. Senin minggu lalu kan baru masuk sekolah, yasudah saya sama suami izin nggak ngantor untuk nemenin anak ke sekolah. Lha piye rasane, ternyata bener sampe sekolahan semua orangtua pada nganterin. Nggak cuma ayah atau ibu tapi dua-duanya pada nganterin. Buanyaaakk banget yang dianter. Bayangin mosok anakku sekolah hari pertama sendirian? Nggak tega. Kok jahat banget gitu Ibunya sibuk kerja terus, izin sehari aja nggak mau.

B: Lho anaknya masuk TK, tho?

A: Nggak Mas, anak saya sudah kelas 1 SD. Tapi yaudah saya bilangin, ayah-ibu cuma nganter hari ini ya. Besok sekolah nggak diantar lagi, nggak apa-apa ya, dek.

B: Oh anakku perasaan dulu nggak gitu deh, biasa aja tuh sekolah ya sekolah aja, saya nggak nganter kan udah ada ibunya.

Saya kembali nggak mengerti obrolan mereka, yang menjadi perhatian saya ketika si Ibu fokus membicarakan anaknya.

A: Oh ya moga-moga anakku betah di sekolah. Yowes ya Mas aku tak salat dulu.

Dari menguping pembicaraan itu, saya dapat pelajaran. Pilihan sebagai Ibu ingin tetap bekerja atau ‘bekerja’ di rumah. Sepertinya ini masalah utama ya? *eh nggak tahu ding, saya belum nikah apalagi punya anak*

Pelajaran lain, seandainya dua orang itu saling mengenal sebelum menikah agaknya keduanya belum tentu cocok. Misalnya, bagi si bapak mengantar anak ke sekolah pertama kali itu nggak terlalu penting. Tapi bagi si Ibu, mengantar anak ke sekolah di hari pertamanya masuk menjadi kegiatan yang penting.

Menyisihkan satu hari demi mengantarkan anak sekolah di hari pertamanya. Simpel sekali tapi memang belum tentu semua orangtua bisa melakukannya.

Saya jadi teringat cerita salah satu teman kantor yang izin tidak masuk sekolah karena mengantar anaknya masuk SD pertama kali. Oh ya, teman saya ini laki-laki ya. Seorang ayah dengan 3 anak. Katanya ada perbedaan antara anak pertama dan kedua. Saat anak pertama, susah sekali dan malu untuk sekolah. Singkat cerita belum PD untuk sekolah dan butuh ditemani. Sedangkan sang adik, ternyata sudah sangat senang sekolah bahkan meminta ayahnya untuk pulang. “Udah pulang saja pulang…..” itu yang dikatakan anaknya sambil melambaikan tangan kepada teman saya.

Bagaimana attachment anak dengan orangtua? atau bagaimana kedekatan kita nanti dengan anak-anak kita, ya?

Jadi, kalau sudah menikah nanti, mau jadi Ibu Bekerja atau Ibu Rumah Tangga, ya? Mungkin cara memberi perhatian keduanya pun berbeda :)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Maukah saya tunjukkan padamu hal-hal yang dengan nama Allah menghapus dosa-dosamu serta mengangkat derajatmu?” “Mau, ya Rasulallah,” jawab para sahabat. “Menyempurnakan wudu, menghadapi segala kesulitan, dan sering melangkah menuju masjid, serta menunggu-nunggu waktu shalat. Itulah perjuangan, perjuangan. Sekali lagi, perjuangan!” (HR. Malik, Muslim, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Gifted Children

Sabtu malam lalu (19/07/2014) saya menonton sebuah tayangan yang sangat bagus di salah satu tv swasta. Dalam talkshow yang dipandu oleh Fifi Aleyda Yahya sedang membahas mengenai gifted children (anak-anak cerdas kreatif —disesuaikan dengan sistem pendidikan di Indonesia).

Anak-anak ini umumnya memiliki nilai IQ  di atas 130 (diukur menggunakan skala Wescler). Namun sayangnya masih banyak orang yang belum memahami adanya anak-anak cerdas kreatif seperti ini.

Dalam talkshow itu dikisahkan empat orang anak yang termasuk gifted children. Cerita pertama datang dari anak kembar yang bernama Dufa dan Ariq, remaja asal Jawa Timur. Mereka terpaksa putus sekolah formal sejak lulus SMP karena orang-orang di sekitarnya tidak mampu menerima ‘perbedaa’ dari kekhususan mereka. Hanya orangtua yang memahami bahwa mereka anak-anak cerdas kreatif. Hal ini ditandai sejak kelas 2 SD mereka sudah mampu membuat CPU sendiri.

Sikap mereka yang dinilai ‘aneh’ di sekolah, membuatnya menjadi bahan olok-olokan dan bullying hingga akhirnya mereka dan orangtuanya pun sakit hati sehingga membuat traumatis pada keluarga ini. Keahlian yang didapat dengan natural mengantarkan mereka pada kasus hukum. Di usia yang masih muda, mereka sudah bisa meretas situs perusahaan hingga akhirnya dipidanakan. Kasus hukumnya masih berjalan hingga saat ini.

Cerita kedua, datang dari seorang anak bernama Julius yang tinggal di Belanda. Julius didiagnosa sebagai anak autis karena sulitnya berkomunikasi dan fokus pada bidang yang sedang dikerjakan. Beruntung, ia memiliki ibu yang pintar sehingga membawanya periksa kembali ke ahli lain. Ternyata Julius bukanlah anak autis melainkan gifted. Saat ini Julius masih kuliah di Belanda dan bergaul seperti biasa dengan anak-anak lainnya.

Cerita terakhir, datang dari Satrio Wibowo yang kini sudah duduk di bangku kuliah. Bowo, nama panggilannya, sempat dinyatakan sebagai anak Debil-satu tingkat di atas idiot-saat menjalani tes psilkologi. Ibu Yeni Sahnaz, orangtua bowo, langsung merobek hasil tes. Ibu Yeni tidak percaya bahwa anaknya yang cerdas dinyatakan Debil. Dengan kekuatan hati dan keyakinan bahwa anaknya adalah anak yang cerdas, beliau dengan semangat mendidik Bowo agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan kecerdasannya.

Di usia 12 tahun, Bowo sudah mampu menulis novel imajinasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Sayangnya tidak ada penerbit yang mau menerbitkan bukunya. Namun, saat ini Bowo berhasil menerbitkan bukunya, selain itu dia juga sangat mahir dalam bermain musik dan menggambar.

Di Indonesia baru ada satu sekolah khusus untuk gifted children yang berasal dari golongan dhuafa. Cugenang Gifted School, nama sekolahnya, didirikan oleh Rikrik Rizkiyawan yang peduli terhadap anak-anak gifted.

Gifted Children selalu melakukan pekerjaan dengan totalitas. Jika berkarya dia akan melakukan dengan sebaik-baiknya, bayangkan kalau anak-anak ini tidak mendapat wadah yang sesuai, jika menjadi orang jahat tidak tertutup kemungkinan mereka akan totalitas di situ.

Hal ini menjadi tanggung jawab kita semua, baik masyarakat maupun korporasi untuk mencoba memberi perhatian kepada gifted children. Anak-anak ini adalah aset yang besar bagi bangsa. :D

Semoga sharing yang sedikit ini ada manfaatnya ya.

Ingin menulis lebih banyak tapi fokus sedang tidak "pas".

Perkara Menunggu (1)

beeaspelangi:

“Aku mau kita menikah tahun depan. Aku siap berhenti bekerja lalu menjadi ibu rumah tangga seperti yang dimau ibumu.”

“Tapi aku belum punya rumah. Aku mau kita menikah saat aku sudah punya rumah. Kalo kamu mau menikah tahun depan, jangan menuntutku punya rumah. Minta saja pada bapakmu.”

Aku diam, tak bergeming mendengar jawabnya. Tak kusangka kata-kata itu yang ku dengar saat ku utarakan niatku…

View On WordPress

ini yang kutakutkan, bukan takut, tapi …. bacalah sendiri… aku memintamu membacanya bukan untukku tapi untukmu dan …. :’)

I won’t give up - Jason Mraz

When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there’s so much they hold
And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?

Well, I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up

And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find

‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up

I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you’re still my friend at least we did intend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I’ve got, and what I’m not, and who I am

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up, still looking up.

Well, I won’t give up on us (no I’m not giving up)
God knows I’m tough enough (I am tough, I am loved)
We’ve got a lot to learn (we’re alive, we are loved)
God knows we’re worth it (and we’re worth it)

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up

Our journey was started here guys. Time flies and i still love you MCK-Majeners ♥ #throwback #latepost #rindu

Our journey was started here guys. Time flies and i still love you MCK-Majeners ♥ #throwback #latepost #rindu

Nasihat sahabat

Sahabatku,
Tidak perlulah kau memikirkan siapa jodohmu
Jangan buang waktumu menunggu ketidakpastian
Bukan harapan yang menjatuhkanmu
Tapi sikapmu yang menjatuhkan dirimu sendiri

Sahabatku,
DIA telah menuliskan satu nama yang pasti untuk berpasangan denganmu
Tak perlu risau menantinya
DIA hanya memintamu mendekat padaNYA
DIA ingin mendengar pintamu
Karena janjiNYA pasti

Sahabatku,
Jika hingga hari ini belum datang jodohmu
DIA masih mencintaimu dan ingin kau lebih mendekat lagi padaNYA

Sahabatku,
Apa yang membuat hatimu gamang?
Bukankah iman dan hati yang kuat sudah lebih dari cukup?
Lalu, kenapa masih risau yang nampak darimu?

Sahabatku,
Jika memang sudah ada satu nama yang kau harapkan, doakan ia…
Jika memang kau mencintainya, tanyakan pada hatimu apa benar cintamu karenaNYA?

Sahabatku,
Berpeganglah pada iman
Mintalah kedua orangtua mendoakanmu
Karena jodohmu bukan pilihan bagimu dan orangtua
Jodoh dan orangtua itu sepaket

Sahabatku,
Kau hanya mampu berusaha
Kau hanya boleh meminta
Kau hanya bisa berusaha
Tapi kau harus ingat, siapapun jodohmu itu hakNYA…

Sahabatku,
Kau pasti muram
Kau pasti khawatir
Tapi kau punya DIA
Kuatkan iman dan hatimu untuk mencari ridhoNYA
Karena hanya DIA sebaik-baik pemberi pertolongan padamu

Sahabatku,
Kuatkan bahumu sampai kelak malaikat-malaikat kecil bersandar di bahumu seraya memeluk dan memanggil “ibu…ibu…ibu…”
Saat itu kau bukan hanya pelindung bagi mereka
Tapi kau pendamping jodohmu

Sahabatku,
Bersabarlah dalam iman….

Proud of you! Gift from USA. She got Academic Achievement Award for Chalkvile, Birmingham. Welcome home, Dek Aya ♥#AFS #BinaAntarBudaya (at Bandara International Soekarno-Hatta)

Proud of you! Gift from USA. She got Academic Achievement Award for Chalkvile, Birmingham. Welcome home, Dek Aya ♥#AFS #BinaAntarBudaya (at Bandara International Soekarno-Hatta)

"Mangulos…" → bagian dari upacara adat pernikahan Batak. Pihak keluarga perempuan sedang memakaikan kain ulos ke pihak keluarga laki-laki. Kali ini pihak perempuan dari suku Batak dan laki-lakinya dari suku Betawi. Happy wedding ♥ #pernikahanBatak

"Mangulos…" → bagian dari upacara adat pernikahan Batak. Pihak keluarga perempuan sedang memakaikan kain ulos ke pihak keluarga laki-laki. Kali ini pihak perempuan dari suku Batak dan laki-lakinya dari suku Betawi. Happy wedding ♥ #pernikahanBatak